Sarasehan Hari Jadi ke-195 Kabupaten Bantul di Sewon Angkat Jejak Sejarah Syech Sewu

SEWON – Dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-195 Kabupaten Bantul, Kapanewon Sewon menyelenggarakan Sarasehan Hari Jadi Bantul ke-195 bertema "Ngopi Bareng Sejarah Syech Sewu" pada Jumat (17/7/2026) pukul 19.00 WIB di Aula Syech Sewu Kapanewon Sewon. Kegiatan ini dihadiri oleh unsur Forkopimkap, lurah beserta pamong kalurahan, perangkat kapanewon, tokoh masyarakat, Karang Taruna, komunitas budaya, serta masyarakat umum sebagai ruang bersama untuk menggali sejarah dan memperkuat jati diri Sewon.

Menghadirkan Albertus Sartono, S.S. sebagai narasumber utama, sarasehan berlangsung hangat dan interaktif. Albertus Sartono merupakan budayawan, penulis, dan pemerhati sejarah yang telah berkarya lebih dari tiga dekade. Selain aktif sebagai Staf Khusus Urusan Budaya Tembi Rumah Budaya, beliau juga pernah menjadi anggota Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Bantul dan saat ini menjadi Redaktur Majalah Kebudayaan Mentaok. Kiprahnya dibuktikan melalui berbagai buku dan tulisan bertema sejarah serta kebudayaan, di antaranya Petilasan di Kabupaten Bantul, berbagai artikel kebudayaan di media massa, hingga menjadi narasumber dalam beragam forum sejarah dan warisan budaya di Bantul maupun DIY. Kedekatan beliau dengan wilayah Sewon juga terlihat dari aktivitasnya di Tembi Rumah Budaya serta keterlibatannya sebagai narasumber berbagai sarasehan sejarah di Sewon dan tulisan-tulisannya yang mengangkat kekayaan sejarah, tradisi, dan cagar budaya kawasan Bantul, termasuk wilayah Sewon.

Dalam pemaparannya, Albertus Sartono mengajak peserta menelusuri sejarah keberadaan Syech Sewu sebagai salah satu bagian penting dari perjalanan sejarah Sewon. Ia menekankan bahwa sejarah bukan sekadar cerita masa lampau, melainkan sumber nilai yang membentuk karakter masyarakat. Pemahaman terhadap sejarah lokal diharapkan mampu menumbuhkan rasa memiliki, memperkuat identitas budaya, sekaligus menjadi landasan dalam menjaga warisan sejarah agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman.

Panewu Sewon, Kusmardiono, S.Sos., M.Acc., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya sarasehan yang mengangkat sejarah lokal sebagai tema utama. Menurutnya, tema tersebut sangat menarik karena setiap wilayah memiliki karakteristik, jejak sejarah, dan nilai budaya yang berbeda-beda, termasuk Sewon yang memiliki kekayaan sejarah serta potensi budaya yang perlu terus digali dan diwariskan kepada generasi penerus.

"Melalui kegiatan seperti ini kita semakin memahami bahwa setiap tempat memiliki karakteristiknya masing-masing. Sewon memiliki sejarah dan identitas yang patut dibanggakan, sehingga perlu terus dikenalkan dan dilestarikan bersama," ungkap Panewu Sewon.

Selain peserta yang memenuhi Aula Syech Sewu, kelancaran kegiatan juga didukung oleh Relawan RAPI Lokal Sewon yang membantu pengaturan komunikasi dan teknis selama acara berlangsung. Suasana sarasehan semakin hidup berkat kepiawaian Rosada Roan Athariq sebagai pembawa acara serta Rika Anggita yang memandu jalannya diskusi sebagai moderator sehingga dialog antara narasumber dan peserta berlangsung dinamis dan komunikatif.

Nuansa budaya semakin terasa melalui penampilan Sewon Raras Swara, Kelompok Macapat Kapanewon Sewon yang dibina langsung oleh KMT. Projosowasono. Lantunan tembang macapat yang dibawakan sebelum sesi utama memberikan atmosfer khas budaya Jawa sekaligus mengingatkan bahwa sejarah dan kebudayaan merupakan dua unsur yang saling menguatkan dalam membangun karakter masyarakat.

Melalui penyelenggaraan sarasehan ini, Kapanewon Sewon berharap semangat mencintai sejarah lokal tidak hanya berhenti pada kegiatan seremonial Hari Jadi Kabupaten Bantul, tetapi terus tumbuh menjadi kesadaran kolektif masyarakat untuk menjaga, merawat, dan memanfaatkan warisan sejarah sebagai bagian dari identitas serta modal pembangunan budaya di Kapanewon Sewon.